Jumat, 31 Desember 2010

Wanita....makhluk yang susah dimengerti

Jika dikatakan cantik dikira menggoda,
Jika dibilang jelek di sangka menghina
Bila dibilang lemah dia protes,
Bila dibilang perkasa dia nangis

Maunya emansipasi, tapi disuruh benerin genteng, nolak
(sambil ngomel masa disamakan dengan cowok)

Maunya emansipasi, tapi disuruh berdiri di bis malah cemberut
(sambil ngomel, egois amat sih cowok ini tidak punya perasaan)

Maunya emansipasi, sono narik becak
(sambil ngomel, mendingan gw jualan pecel dah)

Maunya emansipasi, disuruh angkat beras, muka masam
(sambil ngomel, cowo apa ne.. dah tau beban gw berat (2 mountains) masi disuruh angkat beginian)

Jika di tanyakan siapa yang paling di banggakan, kebanyakan bilang Ibunya,
tapi kenapa ya... lebih bangga jadi wanita karir,
padahal ibunya adalah ibu rumah tangga

Bila kesalahannya diingatkankan, mukanya merah...
Bila di ajari mukanya merah,
Bila di sanjung mukanya merah,
Jika marah mukanya merah,
Kok sama semua? bingung !!

Di tanya ya atau tidak, jawabnya : diam
Ditanya tidak atau ya, jawabnya : diam
Ditanya ya atau ya, jawabnya : diam
Ditanya tidak atau tidak, jawabnya : diam
Ketika didiamkan malah marah (repot kita disuruh jadi dukun yang bisa nebak jawabannya)

Di bilang ceriwis marah,
Dibilang berisik ngambek,
Dibilang banyak mulut tersinggung,
Tapi kalau dibilang Supel wadow seneng banget... padahal sama saja maksudnya

Dibilang gemuk enggak senang padahal maksud kita sehat gitu lho,
Dibilang kurus malah senang padahal maksud kita "kenapa elo jadi begini !!!!"

Itulah WANITA, makin kita bingung makin senang dia...


Spoiler for Perbedaan Wanita dan Pria dalam Potong Rambut....:

Versi wanita:
Wanita 1 : "Oh! Kamu potong rambut ya!? Cantik sekali!"
Wanita 2 : "Apa iya? Aku ngga begitu yakin potongan rambutku ini cocok. Maksudku, apa model seperti ini ngga konyol?"
Wanita 1 : "Ngga! Potongan rambutmu sempurna. Aku juga ingin dipotong seperti itu, tapi aku rasa wajahku terlalu lebar. Aku rasa aku sudah terlalu lama menggunakan model potongan rambut seperti ini terus."
Wanita 2 : "Serius kamu?! Aku rasa wajahmu cantik. Dan kamu bisa dengan mudah potong dengan model seperti ini -- dan model potongan rambut itu kan pas sekali. Aku juga ingin potong seperti itu sebenarnya, tapi aku takut nanti leherku terkesan panjang."
Wanita 1 : "Ngga juga! Aku aja ingin punya leher sepertimu loh! Punya leher sepertimu pasti akan membuat orang tidak melihat bahuku yang jelek ini."
Wanita 2 : "Kamu ngga bercanda itu! Banyak wanita yang ingin punya bahu sepertimu. Semuanya sempurna. Maksudku, lihatlah lenganku, lihatlah betapa pendeknya lenganku. Jika aku punya bahumu, aku pasti bisa cari baju yang pas buatku dengan lebih mudah."


Versi pria:

Pria 1 : "Potong rambut?
Pria 2 : "Iya!"


source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5975120

ciri cowok playboy

namanya cowok , kalo liat cewek cantik pasti pada
haduuuh2

ni ciri-ciri cowok playboy :

1. Wajah cukup meyakinkan
Sedikit sekali ada cowok playboy dengan tampang pas pasan apalagi minus di bawah rata-rata. Kebanyakan dari mereka memiliki tampang yang meyakinkan bahkan masuk kategori ganteng. Memang itulah syarat utama menjadi cowok playboy..

2. Ada banyak kenalan cewek
ini juga penting gan buat dapetin para cewek2..

3. Jago dalam merayu cewek
Barangkali kemampuan alami sang cowok playboy. So, buat para cewek hati-hati terhadap Ciri ciri cowok yang pinter bikin cewek-cewek kelenger dan semaput dengan segala jurus rayuan gombalnya

4. Menyembunyikan cerita cinta masa lalunya
Tentu saja si cowok jarang sekali bercerita tentang kisah cintanya ke cewek lain..

5. Gampang mengungkapkan kata “Cinta”
Cowok-cowok playboy sangat mudah untuk mengumbar kata kata “i love u”

buat para cewek hati-hati yahh

gambarnya seperti ini gan salah satu playboy



wkwkwkwkw


Kamis, 23 Desember 2010

MERRY CHRISTMAS



A time of year
To think of love and sharing
A time of peace
For the whole world to cherish
A time to be with all your friends and family
And wish them all
A Merry Christmas

Making angles in the snow
or sliding down a hill
roasting chestnuts on the fire
takes away the chill
Candy canes and mistletoe
and grand-ma’s home made pie
Ginger bread and hot co-co
You know it’s Christmas time

Seasons come and seasons pass
but we still remember
the joy we shared on Christmas last
looking forward to next December
Flowers bloom, then pumpkins grow,
then suddenly it starts to snow.
Then our hearts are young again
You know it’s Christmas time.

On Christmas eve
Santa will soon be coming
with lots of toys
for girls and boys to play with.
To see their eyes sparkle like stars above
is all we need for a Merry Christmas….
So live your life with kindness and love in your heart
and you’ll always have a merry Christmas.

- – - written by Philiipe Brisebois

Rabu, 15 Desember 2010

►► Inilah 5 Fakta Mengenai Buah Apel ◄◄

source :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6276715
Inilah 5 Fakta Mengenai Buah Apel


Apel merupakan buah yang cukup mudah didapatkan.
Rasanya yang manis dan segar cocok dijadikan kudapan langsung, atau dijadikan jus, salad, bahkan cake.
Namun bukan hanya rasanya yang menakjubkan, apel juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.
Anda pasti mengetahui berbagai manfaat apel bagi kesehatan sehari-hari.
Jadi, kenapa tak mulai membiasakan diri untuk menikmatinya sebutir tiap hari?



Quote:
1. Apel merupakan slow food

Buah ini mengandung serat sebanyak 5 gr, atau 20 persen dari kebutuhan asupan harian Anda.

Karena keras, apel mengharuskan Anda untuk mengunyah dengan sabar, dan hal ini bisa memberikan sinyal pada tubuh bahwa Anda kenyang, sebelum Anda terlalu banyak mengonsumsi kalori.

Pemanis alami dalam apel memasuki aliran darah secara bertahap, membantu Anda menjaga kadar gula darah dan tingkat insulin tetap stabil, sehingga Anda merasa kenyang lebih lama.

Hal ini kebalikan dari snack dengan pemanis buatan, yang membuat Anda cepat lapar kembali.

Quote:
2. Apel membantu Anda bernafas lebih mudah


Perempuan yang mengonsumsi apel saat hamil, akan melahirkan anak dengan resiko penyakit asma yang berkurang, demikian menurut para peneliti dari Inggris baru-baru ini.

Buah ini juga dapat melindungi paru-paru orang dewasa, menurunkan resiko asma, kanker paru-paru, dan penyakit lainnya.

Quote:
3. Apel bisa menurunkan kolesterol

Berkat dua komponen kunci, pektin (sejenis serat) dan polifenol (salah satu antioksidan kuat), apel dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan mencegah oksidasi kolesterol jahat, proses kimia yang mengubahnya menjadi plak yang menyumbat arteri.

Untuk memaksimalkan manfaat apel, makan apel bersama kulitnya. Kulit apel memiliki dua sampai enam kali senyawa antioksidan.

Quote:
4. Apel mampu melawan kanker


Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa beberapa senyawa dalam buah yang berair mengekang pertumbuhan sel kanker, tapi akan bekerja secara maksimal saat apel dimakan seluruhnya (minus batang dan biji, tentunya).

Orang yang mengonsumsi apel lebih dari satu dalam sehari akan menurunkan resiko beberapa jenis kanker (mulut, esofagus, usus besar, payudara, ovarium, prostat, dan lain-lain) sebesar 9 - 42 persen.

Quote:
5. Apel membuat Anda pintar


Mungkin karena meningkatkan produksi asetilkolin, zat kimia yang mentransmisikan pesan antara sel-sel saraf, apel diperkirakan dapat menjaga otak tetap tajam seiring pertambahan usia,

meningkatkan memori, dan berpotensi mengurangi kemungkinan mendapatkan penyakit Alzheimer, demikian menurut sebuah penelitian terbaru dari University of Massachusetts at Lowell.

Penelitian ini memang baru dilakukan terhadap binatang. Namun tak ada salahnya bila Anda mulai mencoba membiasakan diri untuk mengonsumsi makanan ringan bergizi ini.

Selasa, 07 Desember 2010

Biography of Ajahn Chah




Venerable Ajahn Chah (Phra Bodhiñāna Thera) was born into a typical farming family in a rural village in the province of Ubon Rachathani, N.E. Thailand, on June 17, 1918. He lived the first part of his life as any other youngster in rural Thailand, and, following the custom, took ordination as a novice in the local village monastery for three years, where he learned to read and write, in addition to studying some basic Buddhist teachings. After this he returned to the lay life to help his parents, but, feeling an attraction to the monastic life, at the age of twenty (on April 26, 1939) he again entered a monastery, this time for higher ordination as a bhikkhu, or Buddhist monk.

He spent the first few years of his bhikkhu life studying some basic Dhamma, discipline, Pāli language and scriptures, but the death of his father awakened him to the transience of life. It caused him to think deeply about life's real purpose, for although he had studied extensively and gained some proficiency in Pāli, he seemed no nearer to a personal understanding of the end of suffering. Feelings of disenchantment set in, and a desire to find the real essence of the Buddha's teaching arose. Finally (in 1946) he abandoned his studies and set off on mendicant pilgrimage. He walked some 400 km to Central Thailand, sleeping in forests and gathering almsfood in the villages on the way. He took up residence in a monastery where the vinaya (monastic discipline) was carefully studied and practiced. While there he was told about Venerable Ajahn Mun Bhuridatto, a most highly respected Meditation Master. Keen to meet such an accomplished teacher, Ajahn Chah set off on foot for the Northeast in search of him. He began to travel to other monasteries, studying the monastic discipline in detail and spending a short but enlightening period with Venerable Ajahn Mun, the most outstanding Thai forest meditation master of this century. At this time Ajahn Chah was wrestling with a crucial problem. He had studied the teachings on morality, meditation and wisdom, which the texts presented in minute and refined detail, but he could not see how they could actually be put into practice. Ajahn Mun told him that although the teachings are indeed extensive, at their heart they are very simple. With mindfulness established, if it is seen that everything arises in the heart-mind: right there is the true path of practice. This succinct and direct teaching was a revelation for Ajahn Chah, and transformed his approach to practice. The Way was clear.

For the next seven years Ajahn Chah practiced in the style of an ascetic monk in the austere Forest Tradition, spending his time in forests, caves and cremation grounds, ideal places for developing meditation practice. He wandered through the countryside in quest of quiet and secluded places for developing meditation. He lived in tiger and cobra infested jungles, using reflections on death to penetrate to the true meaning of life. On one occasion he practiced in a cremation ground, to challenge and eventually overcome his fear of death. Then, as he sat cold and drenched in a rainstorm, he faced the utter desolation and loneliness of a homeless monk.

After many years of travel and practice, he was invited to settle in a thick forest grove near the village of his birth. This grove was uninhabited, known as a place of cobras, tigers and ghosts, thus being as he said, the perfect location for a forest monk. Venerable Ajahn Chah's impeccable approach to meditation, or Dhamma practice, and his simple, direct style of teaching, with the emphasis on practical application and a balanced attitude, began to attract a large following of monks and lay people. Thus a large monastery formed around Ajahn Chah as more and more monks, nuns and lay-people came to hear his teachings and stay on to practice with him.

Ajahn Chah's simple yet profound style of teaching has a special appeal to Westerners, and many have come to study and practice with him, quite a few for many years. In 1966 the first westerner came to stay at Wat Nong Pah Pong, Venerable Sumedho Bhikkhu. The newly ordained Venerable Sumedho had just spent his first vassa ('Rains' retreat) practicing intensive meditation at a monastery near the Laotian border. Although his efforts had borne some fruit, Venerable Sumedho realized that he needed a teacher who could train him in all aspects of monastic life. By chance, one of Ajahn Chah's monks, one who happened to speak a little English visited the monastery where Venerable Sumedho was staying. Upon hearing about Ajahn Chah, he asked to take leave of his preceptor, and went back to Wat Nong Pah Pong with the monk. Ajahn Chah willingly accepted the new disciple, but insisted that he receive no special allowances for being a Westerner. He would have to eat the same simple almsfood and practice in the same way as any other monk at Wat Nong Pah Pong. The training there was quite harsh and forbidding. Ajahn Chah often pushed his monks to their limits, to test their powers of endurance so that they would develop patience and resolution. He sometimes initiated long and seemingly pointless work projects, in order to frustrate their attachment to tranquility. The emphasis was always on surrender to the way things are, and great stress was placed upon strict observance of the vinaya.

From that time on, the number of foreign people who came to Ajahn Chah began to steadily increase. By the time Venerable Sumedho was a monk of five vassas, and Ajahn Chah considered him competent enough to teach, some of these new monks had also decided to stay on and train there. In the hot season of 1975, Venerable Sumedho and a handful of Western bhikkhus spent some time living in a forest not far from Wat Nong Pah Pong. The local villagers there asked them to stay on, and Ajahn Chah consented. The Wat Pah Nanachat ('International Forest Monastery') came into being, and Venerable Sumedho became the abbot of the first monastery in Thailand to be run by and for English-speaking monks.

In 1977, Ajahn Chah and Ajahn Sumedho were invited to visit Britain by the English Sangha Trust, a charity with the aim of establishing a locally-resident Buddhist Sangha. Seeing the serious interest there, Ajahn Chah left Ajahn Sumedho (with two of his other Western disciples who were then visiting Europe) in London at the Hampstead Vihara. He returned to Britain in 1979, at which time the monks were leaving London to begin Chithurst Buddhist Monastery in Sussex. He then went on to America and Canada to visit and teach.

In 1980 Venerable Ajahn Chah began to feel more accutely the symptoms of dizziness and memory lapse which had plagued him for some years. In 1980 and 1981, Ajahn Chah spent the 'rains retreat' away from Wat Nong Pah Pong, since his health was failing due to the debilitating effects of diabetes. As his illness worsened, he would use his body as a teaching, a living example of the impermanence of all things. He constantly reminded people to endeavor to find a true refuge within themselves, since he would not be able to teach for very much longer. This led to an operation in 1981, which, however, failed to reverse the onset of the paralysis which eventually rendered him completely bedridden and unable to speak. This did not stop the growth of monks and lay people who came to practise at his monastery, however, for whom the teachings of Ajahn Chah were a constant guide and inspiration.

After remaining bedridden and silent for an amazing ten years, carefully tended by his monks and novices, Venerable Ajahn Chah passed away on the 16th of January, 1992, at the age of 74, leaving behind a thriving community of monasteries and lay suporters in Thailand, England, Switzerland, Italy, France, Australia, New Zealand, Canada and the U.S.A, where the practise of the Buddha's teachings continues under the inspiration of this great meditation teacher.

Although Ajahn Chah passed away in 1992, the training which he established is still carried on at Wat Nong Pah Pong and its branch monasteries, of which there are currently more than two hundred in Thailand. Discipline is strict, enabling one to lead a simple and pure life in a harmoniously regulated community where virtue, meditation and understanding may be skillfully and continuously cultivated. There is usually group meditation twice a day and sometimes a talk by the senior teacher, but the heart of the meditation is the way of life. The monastics do manual work, dye and sew their own robes, make most of their own requisites and keep the monastery buildings and grounds in immaculate shape. They live extremely simply following the ascetic precepts of eating once a day from the almsbowl and limiting their possessions and robes. Scattered throughout the forest are individual huts where monks and nuns live and meditate in solitude, and where they practice walking meditation on cleared paths under the trees.

Wisdom is a way of living and being, and Ajahn Chah has endeavored to preserve the simple monastic life-style in order that people may study and practice the Dhamma in the present day. Ajahn Chah's wonderfully simple style of teaching can be deceptive. It is often only after we have heard something many times that suddenly our minds are ripe and somehow the teaching takes on a much deeper meaning. His skillful means in tailoring his explanations of Dhamma to time and place, and to the understanding and sensitivity of his audience, was marvelous to see. Sometimes on paper though, it can make him seem inconsistent or even self-contradictory! At such times the reader should remember that these words are a record of a living experience. Similarly, if the teachings may seem to vary at times from tradition, it should be borne in mind that the Venerable Ajahn spoke always from the heart, from the depths of his own meditative experience.

Karya tulisnya dalam e-book. klik link ini untuk download.
http://www.what-buddha-taught.net/BI/Tidak_Ada_Ajahn_Chah.pdf

source : http://www.ajahnchah.org/book/About_Ajahn_Chah.php

Minggu, 05 Desember 2010

[Renungan1] kelahiran & kematian

The Buddha told his disciple Ananda to see impermanence, to see death with every breath. We must know death; we must die in order to live. WHat does that mean? to die is to come to the end of our doubts, all our questions, and just be here with the present reality. You can never die tomorrow; you must die now. Can you do it ? if you can do it, you will know the peace of no more questions.

Sang Buddha memberitahukan muridnya, Ananda, untuk melihat ketidak-kekalan, untuk melihat kematian dalam setiap nafas. Kita harus memahami kematian; kita harus mati agar dapat hidup. Apa artinya ini? Mati adalah jalan menuju akhir dari semua keraguan, semua pertanyaan kita, dan ada disini dengan kenyataan saat ini. Anda tidak akan pernah mati besok. Anda harus mati sekarang. Dapatkah Anda melakukannya? Bila Anda dapat melakukannya, Anda akan tahu kedamaian tanpa pertanyaan lagi.

Sumber : "Tidak Ada Ajahn Chah"

TA PEI COU (Mahakaruna Dharani dan terjemahannya)



TA PEI COU / DA BEI ZHOU (Mahakaruna Dharani)


Na Mo Ta Pei Kwan She Yin Phu Sa
(Terpujilah Yg Maha Asih Avokitesvara Bodhisatva)

Na Mo Ta Pei Kwan She yin Phu Sa
(Terpujilah Yg Maha Welas Asih Avolitesvara Bodhisatva)

Na Mo Ta Pei Kwan She yin Phu Sa
(Terpujilah Yg Maha Welas Asih Avolitesvara Bodhisatva)


Na Mo He La Ta Na To La Ye Ye
(Dengan penuh sujud aku Berlindung Kpd Tri Ratna)

Na Mo O Li Ye Po Lu Cie Ti Suo Po La Ye,
(Dengan Penuh Sujud Aku Berlindung kepada Yang Maha Sempurna)

Phu Ti Sa To Po Ye Mo He Sa To Po Ye
(Mahkluk yg Telah Mencapai Pencerahan Bodhi)

Mo He Cia Lu Ni Cia Ye,
(Mahkluk Agung Maha Welas Asih)

Aum Sa Po La Fa Yi Su Ta Na Ta Sie
(Aum Beliau yg mempunyai kekuatan kesempurnaan Dharma)

Na Mo Si Ci Li To Yi Meng A Li Ye
(Dengan sepenuh hati dan sujud aku berlindung kepada Mu)

Po Lu Cie Ti Se Fo La Ling To Po
(sumber segala kesucian)

Na Mo Na La Cin Ce
(Setulus hati aku bersujud Pada MU)

SI Li Mo He Pu Tuo Sa Mi
(Cahaya kebajikan Agung yg tiada batas)

Sa Pho Ah Tha Tou SU Peng Ah Se Yin
(Para Buddha sayup – sayup merasakannya)

Sa Po Sa To Na Mo Po Sa To
(yang memiliki semua kemuliaan kebahagiaan kemakmuran tak terkalahkan)

Na Mo Po Chie Mo Fa The Tou
(Sumber berkah semua makhluk di seluruh penjuru alam)

Ta Che Ta Aum, Ah Po Lu Si Lu Cia Ti
(Aum beliau yang mendengarkan suara dunia mengatasi segala rintangan karma)

Cia Lo Ti, Yi Si Li Mo He Phu Thi Sa To
(Aku akan menjalankan ajaranmu sampai tercapainya pencerahan)

Sa Po Sa PO Mo La Mo La,
(Memberi yang baik utk semuanya di dalam berkah dan kebijaksanaan Mu) Mo Si Mo

SI Li Tho Yin Chi Lu Chi Lu
(Inti ketenangan tak terhingga laksana Dharma melepaskan kerterbatasan mengembangkan kemajuan pribadi dan menolong smua makhluk)

Chie Meng, Tu Lu Tu Lu Fa Se Ye Ti
(Berlatihlah atasi kelahiran dan kematian raih kemenangan agung gemilang)

Mo He Fa Se Ye Ti To La To La Ti Li Ni
(Bersatulah tenang jernih tajam berani pancarkan cahaya terang benderang)

Se Fo La Ye Ce La Ce La Mo Mo Fa Mo La
(Guncang guncanglah bebaskan aku dari noda bahtin)

Mu Ti Li Yi SI Yi SI Se Na Se Na
(Datang Datanglah dengar dengarlah)

Ah La Sen Fo La She Li
(Raja Dharma memutar ajaran)

Fa Sa Fa Sen Fo La Se Ye Hu Lu Hu Lu Mo La
(Kabar gembira senyum suka cita terimalah Dharma menyatu dalam hati)

Hu Lu Hu Lu Si Li Suo La Suo La
(Laksanakan Dharma tampa timbul keraguan teguh tak tergoyahkan)

Si Li SI Li Su Lu Su Lu
(Raih kemenangan tak terkalahkan bagaikan embun sejuk yang menyembuhkan)

Pu Thi Ye Pu Thi Ye Pu Tho Ye Pu Tho Ye
(Terang teranglah batin sadar sadarlah tercerahkan)

Mi Ti Li Ye Na La Cin Ce Ti Li Se Ni Na
(Beliau yg maha asih yg patut di puja laksana pedang kebenaran yg kuat dan tajam)

Pho Ye Mo Na Sa Po He
(kepada yang sempurna Svaha)

Si Tho Ye Sa Pho He
(kepada yg mulia Svaha)

Mo Ho SI Tho Ye Sa Pho He
(kepada yg maha gaib svaha)

Si to Yu Yi Se Po La ye Sa Pho he
(Beliau yg memiliki gaib sempurna svaha)

Na La Cin Ce Sa Pho He, Mo La Na La
(Pelindung yg maha asih svaha)

Sa Pho He, Si La Sen A Mu Cu Ye Sa Pho He
(Beliau yg mampu mengatasi smua kesulitan svaha, yg berwajah singa Svaha)

Sa Po Mo He Ah Si Tho Ye Sa Pho He
(Beliau yg memiliki kegaiban agung Svaha)

Ce Ci La Ah SI to Ye Sa Pho He
(Beliau yg memiliki kegaiban cakra svaha)

Pho To Mo Ci Tho Ye Sa Pho He
(Yg memegang bunga teratai svaha)

Na La Cin Ce Pho Cia La Ye Sa Pho He
(Pelindung yg welas dan patut di puja svaha)

Mo Po Li Sen Ci La Ye Sa Pho He
(Resi agung yg menjalani hidup suci Svaha)

Na Mo He La Ta Na To La Ye Ye
(Dengan penuh sujud aku berlindung kepada Tri Ratna)

Na Mo Ah Li Ye Po Lu Cie Ti
(Dengan penuh sujud aku berlindung)

Suo Po La Ye Sa Pho He
(kepada yg maha Sempurna Svaha)

Aum Si Thien Tu Man To La Pha To Ye
(Aum semoga jalan mantra ini membuahkan kegaiban kesuksesan)

Sa Pho He
(Svaha)

sumber : http://forumm.wgaul.com/showthread.php?t=72640


Nb. kesan pertama penulis mendengarnya adalah merasakan sesuatu yang membuat penulis meneteskan air mata berkali-kali. Penulis tidak bisa menjabarkan dalam bentuk kata-kata yang baik dan benar. Penulis merasa diri sangat tidak pantas hidup didunia ini dengan cara2 yg telah penulis lalui selama hidup. Penulis berharap semuanya kan berubah dalam hidup penulis dengan mendalami ajaran Buddha. Hati penulis tersentuh dengan pemahaman dasar
(Mahakaruna Dharani). Oleh sebab itu, Penulis bertekad mempelajari lebih dalam tentang Buddha Dhamma.
Sabbe Satha Bhavantu Sukhitatta

Kelahiran & Kematian



Our birth and death are just one thing. You can't have one without the other. It's a little funny to see how at a death peolple are so tearful and sad, and at a birth how happy and delighted. It's delusion. I think that if you really want to cry, then it would be better to do so when someone's born. Cry at the root, for if there were no birth, there would be no death. Can you understand this?


Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapat yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menanggis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menanggis lebih baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menanggislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini?

Jumat, 03 Desember 2010

10 manfaat dari membaca Ta Pei Cou

download mp3 here

10 manfaat dari membaca Ta Pei Cou (Maha Karuna Dharani):
  1. Dapat membuat hati kita lebih damai dan pikiran lebih jernih & terang. Contohnya bila hati kita sedang gundah/gelisah karena tidak dapat memecahkan masalah, bacalah Ta Pei Cou dengan penuh keyakinan & ketulusan. Cobalah dan rasakan setelah pembacaan Ta Pei Cou hati kita menjadi lebih tenang dan kita akan lebih mudah menyelesaikan masalah yg kita hadapi.
  2. Dapat menghilangkan segala penyakit batin. Contohnya bila hati kita sering iri hati, serakah,terkena guna2,dsb, bacalah Ta Pei Cou dengan tulus secara terus menerus serta melimpahkannya kepada semua makhluk, maka perlahan-lahan pikiran2 buruk kita akan berubah (iri hati menjadi simpati, serakah menjadi gemar beramal) dan kita bisa sembuh dari guna2.
  3. Membuat kita lebih panjang umur. Contohnya bila kita percaya dan penuh keyakinan selalu membaca Ta Pei Cou, maka jiwa, pikiran dan hidup kita menjadi lebih tenang sehingga akhirnya kitapun hidup lebih panjang umur.
  4. Wajah kita selalu memancarkan kebahagiaan sehingga rejeki lebih lancar. Contohnya jika rajin membaca Ta Pei Cou maka kebahagiaan akan selalu menyertai kita dan pancaran wajah kita akan berseri-seri. Misalnya anda punya toko. Jika andamembuka toko dengan wajah berseri-seri, maka pelanggan/pembeli yg anda temui akan menyukai, percaya dan merasa nyaman berbelanja di tempat anda sehingga akhirnya rejeki yg datang pada diri anda menjadi lebih lancar.
  5. Dapat mengurangi karma buruk yg kita perbuat di masa lampau. Contohnya di kehidupan lampau kita sering mencuri barang milik orang lain sehingga mengakibatkan kita hidup miskin & susah. Untuk mengurangi karma buruk kita tsb, selain rajin berdana, perbanyaklah membaca Ta Pei Cou sehingga lambat laun karma buruk kita berkurang dan keberuntungan menyertai kita.
  6. Dapat mengurangi hambatan. Contohnya sewaktu kecil kita seing menyakiti/membunuh binatang karena ketidaktahuan sehingga setelah dewasa seringkali banyak hambatan dlm hidup kita. Jika tekun membaca Ta Pei Cou dengan tulus maka segala hambatan satu per satu akan sirna/berlalu dari kehidupan kita.
  7. Dapat membuka Prajna (kebijaksanaan) untuk lebih mengerti Dharma. Contohnya bila daya ingat kita kurang atau sulit untuk menghafal suatu pelajaran maka dengan membaca Ta Pei Cou daya ingatan kita akan menjadi lebih kuat sehingga tidak akan kesulitan untuk mengingat/menghafal.
  8. Dapat menimbulkan Bodhicitta sehingga keyakinan kita terhadap Triratna akan menjadi lebih kokoh. Contohnya bila kita mengalami banyak masalah dan kehilangan kepercayaan diri serta lari dari keyakinan kita maka kita akan mudah terbujuk rayuan dan akhirnya meragukan Dharma. Jika rajin membaca Ta Pei Cou maka masalah sebesar apapun tidak akan mampu menerobos benteng pertahanan keyakinan kita.
  9. Dapat terhindar dari rasa ketakutan yg berlebihan dan terhindar dari segala bencana yg akan menimpa. Contohnya jika kita takut akan kegagalan hidup, dengan membaca Ta Pei Cou kerisauan kita akan suatu masalah yg belum kita hadapi akan hilang. Jika mengalami suatu musibah/bencana (kebakaran, banjir,dll) maka kita akan terhindar dari bencana kemalangan tersebut.
  10. Setelah meninggal dunia akan dijemput oleh para Buddha dan Bodhisattva ke surga (tanah suci).
Tambahan:
Dengan banyak membaca Ta Pei Cou, di atas kepala kita akan ada Dewa Pelindung (Kui Jin) yg akan melindungi kita dari segala macam mara bahaya dan kesulitan hidup. Pembacaan Ta Pei Cou disertai pemercikan air tirta akan membawa banyak manfaat bagi makhluk yg tak terlihat, terutama bagi makhluk2 yg ganas, dengan air tirta mereka tidak lagi menjadi ganas.

Bodhisattva Avalokitesvara (Kuan Yin Pu Sa) dengan tekad sucinya bersabda:
  1. Kalau ada makhluk hidup yg selalu membaca "Maha Karuna Dharani" dan tidak pernah bersilat lidah, maka manfaat yg didapat akan terlahir di Surga Barat atau Surga Sukhavati
  2. Jika ada makhluk hidup dengan penuh ketulusan membaca "Maha Karuna Dharani" namun permintaannya tidak terpenuhi, maka Aku tidaklah dapat mencapai Samyak Sambodhi
  3. Jika ada makhluk hidup dengan penuh ketulusan membaca "Maha Karuna Dharani" namun tidak bisa menghilangkan kekotoran batin, maka Aku tidaklah dapat mencapai Samyak Sambodhi.
Jadi memang benar jika kita rajin membaca Ta Pei Cou dengan sungguh2 akan banyak menfaat yg kita dapatkan asalkan pembacaan Ta Pei Cou ini tidak disertai dengan KEAKUAN.

sumber : http://budhasutras.blogspot.com/2009/01/10-manfaat-dari-membaca-ta-pei-cou-maha.html