Selasa, 23 Agustus 2011

Datang Karena Kagum

Datang Karena Kagum
oleh: Y.M. Uttamo Thera *

Kegiatan puja bhakti adalah kegiatan yang sangat baik. Selain bisa menambah kamma baik, juga dapat meningkatkan pengetahuan dan pengertian tentang Dhamma. Hanya saja kegiatan ini sering disalahartikan. Dengan jadwal yang hanya seminggu sekali, ada saja yang merasa keberatan. Kalau ditanya, alasannya: sibuk. Alasan yang klise.

Biasanya kalau orang menjawab begitu, saya akan mengatakan dia "sungguh luar biasa". Lihat saja sebagian besar pejabat negara kita. Dalam sehari mereka bisa melaksanakan sholat lima kali. Padahal sibuknya luar biasa. Bapak Presiden kita juga demikian. Tetap menjalankan ibadah yang sama walaupun acaranya sangat padat. Kalau kita, umat Buddha, berpuja bhakti seminggu sekali saja sudah merasa sibuk, berarti jadwal kita lebih padat dari seorang presiden!

Ada yang lebih parah. "Ke vihãra atau tidak, sama saja. Di vihãra kita toh baca paritta, di rumah juga kan bisa," begitu kilah mereka. Mereka ini adalah orang yang tidak mengerti manfaat dan fungsi datang ke vihãra.

Sebetulnya kita datang ke vihãra harus didasari oleh rasa kagum. Ya, rasa kagum kepada Sang Buddha. Kita (seharusnya) datang karena mencari Sang Buddha. Ada yang tidak datang lagi ke vihãra dengan alasan pemuda vihãra cuek. Sebagai umat baru, dia merasa tidak diperhatikan. Ada juga yang tidak mau datang karena (katanya) Bhikkhunya sombong.

Kita ke vihãra 'kan untuk mencari Sang Buddha. Bukan cari pemuda vihãra atau cari Bhikkhu. Kalau orang sudah memahami hal ini, berarti ia telah merasakan manfaat ikut Agama Buddha.

Kita harus kagum karena kita sudah mengerti ajaran-Nya, walaupun mungkin masih sedikit. Bagaimana bisa lebih mengerti kalau tidak mau ke vihãra? Membaca paritta di rumah memang menambah kamma baik, tapi tidak menambah pengertian kita. Untuk itulah perlu ke vihãra. Di vihãra kita juga bisa bertemu dengan teman-teman dan berbagi pengalaman, baik pengalaman biasa ataupun yang berkaitannya dengan Dhamma. Misalnya, ada yang bercerita bahwa sebelum kenal Agama Buddha dia suka marah-marah. Tapi sekarang bisa jadi tenang. Ada juga yang bercerita kalau dulu di sekolah dia bodoh sekali. Ujian tidak pernah lulus. Sekarang cerdas, ujian bisa lulus terus. Soalnya sudah mengenal ajaran Sang Buddha. Berbagi pengalaman dan kesaksian seperti ini sangatlah perlu.

NONTON FILM

Kalau kita sering ke vihara keyakinan akan Dhamma dapat terbangkitkan. Jika ajaran Sang Buddha dipraktekkan, lalu terbukti maka kita akan bahagia. Satu contoh misalnya, seorang istri tetap tenang ketika tangan suaminya putus dipotong penjahat. Sebab sang istri sudah punya konsep Agama Buddha dan juga sering meditasi. Dengan tenang ia memegang dan membungkus tangan suaminya. Kemudian membawanya ke rumah sakit. Pikirnya, bila ia pingsan, juga adik dan kakaknya ikut pingsan, siapa yang akan membawa suaminya ke rumah sakit. Darah suaminya akan terus mengucur sehingga dapat menyebabkan kematian. Nah, orang seperti ini kalau bercerita di vihãra akan dapat menumbuhkan rasa kekaguman terhadap ajaran Agama Buddha.

Ibarat menonton film. Misalnya, film seri tv. Sering gara-gara film di tv, vihãra menjadi sepi. Apalagi jika film tersebut diputar pada hari di mana diadakan puja bhakti. Banyak yang tidak datang. Nah, mengapa tiap hari orang masih sempat nonton film seri tv padahal mereka sibuk? Jawabannya, karena mereka kagum. Walaupun kadang mereka harus mengeluarkan air mata. Begitu pula dengan Agama Buddha. Kalau sudah kagum maka pasti minimal tiap hari Minggu orang akan datang. Orang kagum tentu ada alasannya. Apa sih alasan belajar Agama Buddha? Karena Agama Buddha bisa dirasakan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dasar Agama Buddha adalah kenyataan bahwa setiap saat kita selalu punya perasaan kecewa (dukkha). Agama Buddha mengatakan hal ini bukan karena pesimis terhadap kehidupan. Bukan juga optimis. Tapi karena Agama Buddha bersifat realistis, nyata, dan dapat dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Berpisah dengan yang dicintai- entah orang, barang, atau hal lain- dan berjumpa dengan yang dibenci. Juga ketika kita menginginkan sesuatu tetapi tidak terpenuhi. Semua itu membuat kecewa. Contoh nyatanya, dalam puja bhakti. Saat membaca paritta, ada yang ingin cepat-cepat, tapi kenyataannya yang lain malah pelan. Atau sebaliknya. Pula dalam bermeditasi, ketika kaki kita kesemutan. Pasti timbul kekecewaan.

Bila kita rajin mengamati gejala kehidupan, sebetulnya pengalaman tentang ajaran Sang Buddha selalu ada setiap saat. Semua pasti pernah kecewa. Kita akan melihat sebenarnya sumber kekecewaan itu adalah pikiran. Dari pikiran bisa muncul berbagai keinginan. Dari situ akan timbul kekecewaan.

MEDITASI DAN PIKIRAN

Dalam Agama Buddha diajarkan bagaimana cara menyesuaikan pikiran. Kita tidak mungkin mampu mengubah kenyataan, tapi kita bisa mengubah cara berpikir kita. Misalnya, kita ikut ujian dan tidak lulus. Kita tidak mungkin mengubah kenyataan ini. Tidak masuk akal dengan mengempeskan ban mobil dosen atau mengancamnya lalu kita jadi lulus. Tapi pikiran bisa disesuaikan supaya bisa menerima kenyataan itu. Lalu, belajar lebih giat supaya bisa lulus.

Sedikit demi sedikit kita mencoba mengatasi keinginan yang timbul dari pikiran. Belajar meditasi merupakan bagian dari latihan mengendalikan pikiran. Saat duduk diam bermeditasi muncul pikiran bosan. Timbul kegelisahan dalam diri kita. Tetapi jika sudah bisa mengendalikannya, kita akan tetap tenang. Malah timbul pikiran, inilah kesempatan untuk mengendalikan pikiran. Tetap konsentrasi, berusaha memusatkan perhatian pada satu obyek tertentu. Menyadari gerak pikiran. Bila pikiran lari ke arah lain, usahakan menariknya kembali pelan-pelan ke obyek semula. Begitu seterusnya sehingga lama-kelamaan pikiran bisa dikendalikan dan ketenangan pun dapat diperoleh.

Dengan rajin meditasi kita akan selalu sadar. Kita bisa melihat bahwa hidup ini tidak kekal. Baik itu badan, pikiran, atau hal lainnya. Misalnya, seperti yang telah disebutkan di depan, yaitu pada saat meditasi kaki kita kesemutan. Tapi kesemutan tidak kekal, tidak berlangsung selamanya. Pasti akan hilang. Belum dan tidak ada orang yang menjadi lumpuh karena meditasi.

Meditasi adalah latihan. Prakteknya, dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya dengan latihan karate. Karate dipakai bukan pada waktu latihan saja, tapi juga untuk bela diri di luar latihan bila diperlukan. Soalnya kalau hanya dipakai pada saat latihan saja, bagaimana ketika ada yang akan mengganggu. Apakah kita akan menyuruhnya menunggu sampai waktu latihan? Tidak mungkin.

Begitu juga dengan puja bhakti. Dalam puja bhakti yang diadakan selama satu atau dua jam kita diajarkan untuk berbuat baik. Apakah itu berarti hanya selama puja bhakti saja berbuat baik, sedangkan sesudahnya bisa mencuri, membunuh, atau menipu orang? Tidak kan?!

Dengan memahami segala sesuatu adalah tidak kekal maka pikiran akan terbebas dari kemelekatan. Kita akan selalu siap menghadapi kenyataaan ketika apa yang kita inginkan tidak terpenuhi. Setelah menyadari hal ini maka kekecewaan pun akan hilang.

Sesungguhnya inilah salah satu garis besar ajaran Agama Buddha. Bahwa untuk mengatasi kekecewaan, kita harus mencari sumbernya dulu yaitu pikiran. Untuk mengatasinya bisa dengan latihan meditasi. Kalau sudah bisa membuktikan hal ini, maka yang muncul adalah kebahagiaan. Bukan lagi kekecewaan. Dalam diri akan timbul rasa kagum terhadap ajaran Sang Buddha. Kita takjub dan bergumam, "Kok ada ajaran yang bisa mengatasi kekecewaan?! Hebat sekali!".

Selanjutnya kita akan jadi lebih sering ke vihãra dan sering mendengarkan serta berdiskusi Dhamma. Datang ke vihãra bukan lagi untuk bertemu teman, pengurus, atau Bhikkhu, tetapi untuk mencari (ajaran) Sang Buddha. Tentunya karena didasari oleh kekaguman kita.

Keyakinan terhadap Dhamma itu seperti sebatang pohon. Kalau terus dipupuk dan disirami, akan tumbuh. Sebaliknya bila tidak, bakal mati. Orang yang tidak pernah datang ke vihãra seperti pohon yang mati, karena tidak pernah disirami dengan Dhamma. Dia juga tidak pernah dipupuk dengan diskusi Dhamma, sehingga keyakinannya tidak kuat.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama menumbuhkan rasa yakin terhadap ajaran Sang Buddha dan mempraktekkan Dhamma. Sebab bila melaksanakan Dhamma maka kita akan terlindung oleh Dhamma itu sendiri.

*Y.M. Uttamo Thera adalah Ketua Yayasan Dhammadipa Arama cabang Blitar & Webmaster Samaggi Phala

Naskah disampaikan di Cetiya Karuna Dipa, Surabaya dan pernah dimuat di Lembaran VIJJA KUMARA NO. 1/I/96.

Hak cipta tetap berada pada penulis.

sumber : http://www.buddhistonline.com/dhammadesana/desana1.shtml

Senin, 01 Agustus 2011

Ini Dia Super Smartphone Sesungguhnya!

Apa sebenarnya yang Anda cari dan butuhkan dalam sebuah smartphone? Bingung? Mari kita menoleh sejenak kebelakang, saat suatu masa lalu, kita akan membeli sebuah notebook. Nah, apa yang Anda pertimbangkan sebelum membelinya?

OK! Ada tiga poin utama dalam memilih notebook yang dapat Anda tiru sebelum membeli sebuah ponsel pintar, yaitu: performa, fitur, dan desain. Ketiga hal itulah yang menjadi acuan Hendra Kusuma sebelum meminang sebuah ponsel pintar. Fotografer lepas itu berniat mengganti ponselnya dengan smartphone keluaran terbaru.

Baginya, sebuah ponsel pintar tak semata harus cerdas, tetapi juga mudah berinteraksi dengan jejaring sosial di dunia maya. .Biar makin eksis di Facebook atau Twitter,. ujarnya sambil tertawa.

Di pasaran tersedia beberapa merek ternama yang mengedepankan faktor performa, fitur, serta desain. Salah satu yang menarik perhatian lajang itu adalah Samsung GALAXY S II. Dari segi performa, smartphone keluaran terbaru dari Samsung GALAXY Series ini mengadopsi prosesor ganda alias dual core dengan kecepatan 1,2 GHz.

Dual core prosesor ini menyediakan performa mobil sangat responsive untuk aktifitas multitasking tinggi, respon cepat, UI yang lebih halus, proses editing gambar dan game yang lebih mumpuni. Apalagi dilengkapi peramban Google Chrome Lite yang mendukung Adobe Flash Player 10.3, memudahkan saat menonton video online. Apalagi dengan sistem operasi Android 2.3.3 alias Gingerbread, peralihan frame berlangsung lebih halus.

Sementara dari sisi desain, Samsung GALAXY S II tergolong seksi dengan tampilan langsing. Tebalnya kurang dari 1 cm, alias hanya 8,49 mm. Dengan model slim seperti itu, panjang 125,3 mm dan lebar 66,1 mm, serta berat hanya 116 gram, smartphone ini nyaman digenggam dan disimpan dalam saku.

Layar full touch bar seluas 4,27 inchi menjanjikan tampilan gambar begitu memukau. Itu karena dukungan teknologi khas Samsung Super AMOLED Plus 16 juta warna WVGA. Super AMOLED Plus ini menghasilkan rasio kontras tinggi dan ketajaman gambar yang memukau. Samsung menciptakan teknologi ini untuk menghemat ruang, serta konsumsi energi menjadi lebih hemat 18%. Inilah yang membuat Samsung GALAXY S II menjadi salah satu smartphone tertipis berdaya tahan lebih lama.

Bagaimana dengan kamera? Yup! Samsung GALAXY S II dibekali 8 MP kamera auto focus dan flash LED. Sementara kamera depan sebesar 2MP cukup pas untuk potret diri maupun video chat online. Ini tentu memudahkan bagi pemilik akun video chat semacam Skype. Atau berbagi video mini melalui Qik. File foto atau video dapat langsung disimpan di dalam memori internal yang berkapasitas 16 GB, sementara memori eksternal dapat disisipi kartu memori hingga 32 GB.

Yang menarik adalah fitur Social Hub versi 2.0. Melalui sistem ini akun media sosial seperti Twitter, Facebook, dan instant messenger dikelola dalam folder khusus untuk interaksi lebih cepat dengan jejaring sosial di internet.

Tidak berlebihan jika pabrikan smartphone asal Korea itu menjuluki Samsung GALAXY S II sebagai super smartphone, super vivid, super fast, dan super slim. Gabungan sempurna akan smartphone performa tinggi, kelengkapan fitur, dan estetika desain.

Penasaran? Silakan kunjungi http://www.samsung.com/id/galaxys2 dan ajak kolega Anda untuk bergabung di akun Facebook Samsung Indonesia di www.facebook.com/SamsungMobileIndonesia. Atau pantau terus time line Samsung Indonesia di Twitter melalui @Samsung_ID untuk info terbaru dari Samsung.